Language: Indonesia Language: English header
links
 


Anak-anak didepan gedung Sayap Ibu PERSATUAN ORANG TUA DENGAN ANAK DOWNSYNDROME
Mengapa Anak Panas-Batuk - pilek Terus Menerus ?
IMPLEMENTASI KONSEP MONTESSORI PADA PENDIDIKAN USIA DINI

.:Articles Archives:.

Mengapa Anak Panas-Batuk - pilek Terus Menerus ?
[03/01/2008]
Mengapa Anak Panas-Batuk - pilek Terus Menerus ?

Seorang bayi seharusnya jarang sakit, karena masih ditopang imunitas tinggi sewaktu dikandung atau menyusu ibunya. Penyakit sehari-hari seperti flu (yang ditandai panas, batuk, pilek), penyakit virus lain, atau bahkan infeksi kuman dapat ditolaknya. Sejak lama fakta ini telah disadari. Coba saja, bila bayi Anda tinggal serumah dengan seorang penderita campak, maka biasanya ia tidak akan gampang tertular, hal ini seperti dikatakan oleh Prof. Iwan Darmansjah.

Namun nyatanya, banyak anak dan bayi menjadi pelanggan dokter setiap 2 - 3 minggu karena penyakit yang sama: bolak-balik demam, batuk, dan pilek. Tentu banyak orang tua bosan. Mereka menggugat, "Mengapa ini harus terjadi, sedangkan semua kebutuhan anak saya telah dicukupi?". Pencetus penyakit pada anak memang sulit ditentukan, karena dapat bermacam-macam, misalnya lingkungan yang kurang sehat, polusi udara yang tinggi, atau ada perokok di rumah. Penggunaan penyejuk udara (AC) di malam hari bisa menimbulkan alergi suhu dingin, sehingga hidung anak mampet, dan ia hanya bernafas lewat mulut. Kipas angin yang dipasang di kamar tidur lalu meniup debu ke segala penjuru kamar. Belum lagi penularan virus di sekolah dan tempat ramai seperti mal atau pasar, misalnya perawat di rumah sakit atau Puskesmas yang sedang batuk - pilek. Tak langka pula kejadian sakit gara-gara anak mengonsumsi makanan ringan tidak sehat yang membuat tenggorokan menggelitik lalu disertai radang.

Batuk - pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6-12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2-3 minggu selama bertahun-tahun. Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahan atau bisa dikatakan salah kaprah dalam penanganannya. Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk - pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Selain hal itu menjadi sia-sia, pemberian antibiotik kadang-kadang justru menimbulkan efek sampingan berbahaya. Obat yang mengandung antibiotic juga tidak akan mempercepat penyembuhan, karena penyakit virus memang bakal sembuh dalam beberapa hari, dengan atau tanpa antibiotik. Hal ini telah dibuktikan dengan studi terkontrol (membandingkan dengan plasebo) berulang kali sejak ditemukannya antibiotik di tahun 1950-1960-an. Hasilnya selalu sama sehingga tidak perlu diragukan lagi kebenarannya. Di lain pihak, antibiotik malah dapat mematikan kuman baik dalam tubuh yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Antibiotik juga mengurangi imunitas anak yang mengakibatkan daya tahan menurun, sehingga anak jatuh sakit setiap 2 - 3 minggu dan perlu berobat lagi. Kemudian, biasanya orang tua akan langsung membeli antibiotik di apotik atau pasar, karena setiap kali ke dokter mereka biasanya diberi obat tersebut.

Lingkaran ini:
sakit → antibiotik → imunitas menurun → sakit lagi -- akan membuat si anak diganggu panas-batuk - pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.
Komplikasi juga akan sering terjadi, dan tidak sedikit yang akhirnya membawa anak itu ke kamar perawatan di rumah sakit. Pengalaman menunjukkan, bila antibiotik dicoret dari resep (sementara obat batuk - pilek yang adekuat diberikan), setelah 1-3 bulan, si anak tidak akan gampang terserang penyakit flu lagi. Pertumbuhan badannya pun menjadi lebih baik. Salah kaprah kedua ialah gejala batuk - pilek yang tidak diobati secara benar; artinya, siasat pengobatan perlu diubah. Ini lantaran obat jadi yang dijual di apotek tidak selalu dapat mengatasi masalah setiap penderita. Bahkan sering terjadi, penyakit batuk - pilek malah menjadi lebih parah dan berkepanjangan. Suatu perubahan dalam resep, yang mendasar dan individual perlu dilakukan untuk memutus lingkaran panas - batuk - pilek ini. Yang utama ialah :
- menghentikan pemberian obat antibiotic,
- tidak memberikan kortikosteroid secara terus-menerus,
- menghentikan pemberian obat penekan batuk dan menggantinya dengan bronkodilator, dan
- memberikan campuran obat pilek yang baru; Efedrin dosis kecil - dicampur dengan antihistamin yang efektif - merupakan obat pilek terbaik. Pseudo-efedrin, fenilpropanolamin, atau etilefrin yang lebih sering dijumpai dalam obat-jadi, tidak lebih baik dari efedrin, walaupun lebih mahal. Semua obat lain yang ternyata tidak terbukti efektif perlu dihentikan.
Terakhir, yang tidak kalah penting, carilah faktor pencetus yang dicantumkan di awal tulisan ini. Bila ditemukan, hindarilah. Semoga anak Anda tidak perlu lagi begitu sering berobat karena flu! Pencetus baru juga telah ditemukan diantara beberapa pasien anak. Banyak orang tua di zaman ini sering meng-entertaint anaknya dengan mengajaknya berjalan-jalan ke Mal. Kasus pertama, anaknya sakit dan badannya panas, bahkan sebelumnya kondisinya sangat sehat. Mal sebenarnya bukan tempat rekreasi yang sehat. Walau dengan hanya parasetamol akhirnya panasnya hilang, lalu sembuh.. Tetapi dapat kita bayangkan berapa banyak orang tua di Jakarta ini yang berbuat demikian, dengan tujuan sekedar untuk menghibur/menyenangkan anaknya?

Sebagian besar akan berakhir dengan panas, batuk, pilek, bahkan ada yang sampai BAB yang terus-menerus dan muntah secara akut. Jelas Mal bukan tempat rekreasi yang sehat, karena penuh dengan virus dan kuman.

 


design by greenFlops      

Guest Book Contacts Activities Adoption About Sayap Ibu Home Article